Minggu, 10 Desember 2017

Book Review


Judul                      : Orang Jepang di Koloni Asia Tenggara
Judul Asli              : The Japanese in Colonial Southeast Asia
Penyunting            : Saya Shiraishi dan Takashi Shiraishi
Penerjemah          : P. Soemitro
Penerbit                 : Yayasan Obor Indonesia
Tahun                    : Juni, 1998
Cetakan                : Pertama
Tebal                      : vi + 282 hlm : 21 cm
ISBN                      : 979-461-301-0

Jepang : Negeri Penjajah yang Menginspirasi

Maiko, tokoh pelacur dalam novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer adalah antitesa dari cemerlangnya negara Jepang pada masa awal abad ke-20. Bagaimana tidak? Negara Jepang saat itu dianggap setara dengan orang kulit putih Eropa. Tetapi, tidak dengan orang Jepang (di Asia Tenggara). Akibatnya, perempuan dan beberapa komunitas Jepang yang dianggap melakukan pekerjaan hina tersebut tak disukai Konsulat Jepang. Dan, negeri dengan julukan Matahari Terbit ini berhasil menghapuskan pekerjaan tersebut tahap demi tahap. Ironi di atas merupakan kesan Saya Siraishi dan Takashi Shiraishi yang ditulis dalam catatan harian mereka sekaligus menjadi mukadimah buku Orang Jepang di Koloni Asia Tenggara.
Migrasi orang Jepang ke Asia Tenggara dimulai pada awal zaman Meiji. Karayuki-san, pekerja seks komersial Jepang, adalah latar belakang Jepang selain sebagai kekuatan imperial dengan perusahaan-perusahaan besarnya di beberapa negeri koloni tersebut. Daerah persebaran Karayuki-san meliputi daerah Siberia, Manchuria, Cina, daerah Pasifik Selatan, India sampai Amerika dan Afrika. Fukuzawa Fukichi. Seorang cendekiawan dan tokoh terkemuka pada zaman Meiji menyebutkan Karayuki-san dalam sosio-ekonomi Jepang begitu signifikan peranannya.
Bila di mukadimah dibahas mengenai sosio-ekonomi, maka pada bab dua pembaca disodori Asia Tenggara sebagai Konsep Regional Modern di Jepang : Sebuah Analisis Buku Ajar Geografi Regional. Wilayah Asia Tenggara merupakan konsep Jepang setelah Perang Dunia I. Dan, istilah “Asia Tenggara” diambil dalam tema dibentuknya Komando Asia Tenggara oleh Kekuasaan Sekutu selama Perang Dunia II guna membebaskan wilayah ini dari pendudukan Jepang. Konsep Regionalnya disusun di awal Jepang modern atas dasar pertimbangan politik atau kepentingan dan merebaknya ideologi imperium Jepang. Kemudian, juga dijelaskan buku ajar ilmu-ilmu sosial sekolah dasar yang mencerminkan kebijakan penambahan ilmu-ilmu sosial ke dalam kurikulum dimasukkan menjadi satu di dalam mata pelajaran sejarah dan geografi yang lama.
Tulisan ketiga adalah Pola Penetrasi Ekonomi Jepang ke Singapura dan Malaya Sebelum Perang. Penetrasi orang Jepang di Singapura dan Malaya pada masa antar-peperangan ditandai dengan pasang naik dan turunnya jumlah pekerja orang Jepang di bidang perdagangan dan bank yang tidak menikah dan yang tidak disertai keluarganya dan yang jumlahnya dapat dengan cepat meningkat atau menurun menurut keadaan bisnis. Penetrasi Jepang di dua wilayah itu bersifat ekonomis, dipimpin oleh perusahaan yang tertarik oleh pasaran regional sumber alam, jauh dari stereotipe yang dengan populer dikenal “eksodus orang yang terampas”.
Esai keempat, Pola Penetrasi Ekonomi Jepang ke Hindia Timur Belanda Sebelum Perang menjelaskan alasan bertambahnya populasi orang Jepang di Hindia Timur Belanda. Antara tahun 1917 dan 1927, secara bertahap angka populasi meningkat. Hal tersebut merupakan suatu ciri yang mencolok dari kecenderungan populasi orang Jepang di negeri koloni tersebut.
Pada esai kelima, Pola Perembesan Ekonomi Jepang ke Filipina sebelum Perang, dipaparkan analisis pola penetrasi ekonomi orang Jepang di Filipina pada 1920-an yang dikendalikan oleh sumber daya dan pasaran, seperti halnya di Singapura dan Malaya. Namun, dalam perjalanan waktu, populasi di sektor pertanian dan perdaganan diorganisir kebali menjadi usaha-usaha besar oleh sebab banyak pekerja perkebunan abaca, yang jumlahnya bertambah dengan cepat selama Perang Dunia I menjadi penggarap bebas. Tetapi, mereka kehilangan status ketika harga serat rami turun selama masa resesi awal 1920-an. Sebagian besara orang Jepang di Filipina yang terlibat di dalam sektor pertanian dan perdagangan bertindak selaku pedagang kecil yang bebas, meskipun didominasi oleh perusahaan yang lebih besar.
Tulisan keenam menyuguhkan kisah Hirochiro Ishihara dan Pasokan Bijih Besi yang Stabil. Di sini, dijelaskan biografi Ishihara sebagai penemu bijih besi di Sri Medan, Johor, di tepi Sungai Simpang Kiri. Meski lahir dan hidup di daerah miskin, Ishihara tak menderita kemiskinan karena memiliki dua setengah are sawah. Ia kemudian menjelajah ke Asia Tenggara dan dipertemukan dengan peruntungannya. Tetapi, sebelum mencapai kesuksesannya, lelaki yang mengawali bisnis di kebun karet ini harus berjibaku demi melawan nasib. Bahkan, ia sempat harus menjual kebun karetnya karena bangkrut pada 1919. Berkat keberuntungannya, pada 1930-an Ishihara mulai menegaskan capnya sendiri sebagai imperialis “Ekspansi ke Selatann,” dengan menulis Shin Nippom kensetsu (Membangun Nippon Baru; 1934), Tenkan Nippon no shinro (Arah Jepang di persimpangan jalan; 1940), dan Minami Nippon no kensetsu (Membangun Nippon Selatan; 1942), dan terlibat di dalam dunia politik.
Esai penutup, Komunitas Orang Jepang di Luar Negeri : Kasus Davao Sebelum Perang di Filipina, meneroka komunitas orang Jepang di luar negeri yang terdiri atas sejumlah pekerja migran pada awal abad ke-20. Peranan mereka ialah mendirikan sekolah-sekolah Jepang di dalam pembentukan dan pengembangan komunitas mereka, khususnya di Davao. Salah satunya sekolah yang didirikan Ota Kogyo, Furukawa Takushoku, serta konsul yang bertujuan mendorong imigran agar bermukim di situ. Sekolah-sekolah ini memainkan pernanan yang penting di dalamn pengendalian dan pengorganisasian oleh Perhimpuran Orang Jepang (Japanese Association) terhadap jumlah imigran yang terus betambah.

Tujuh esai panjang yang terhimpun dalam buku ini merupakan ikhtiar mempelajari bangsa Jepang yang berprilaku beda dari kebiasaan bangsa Timur Asing pada umumnya. Tidak seperti bangsa Cina, India, dan Arab, mereka kembali ke negaranya setelah berakhirnya Perang Dunia II. Tak dinyana bahwa Nasionalisme, kepribadian Jepang yang begitu kuat inilah yang menggerakkan Tokyo terus memonitor dan mengeksploitasi komunikasi ekspatriatnya demi martabat bangsanya yang saat itu menjadi warga kelas satu. Data-data terkait Jepang sebagai negara berpengaruh di negeri koloni Asia Tenggara yang ditampilkan dalam bentuk tabel juga menambah kelengkapannya. Paling utama, di hampir setiap bab disertai kesimpulan, sehingga memudahkan pembaca mengambil inti bacaan. Sementara, ditemui beberapa kalimat yang sulit dicerna. Seharusnya, penerjemah mampu membawa karya terjemahan ini ke hadapan pembaca Indonesia, yakni dengan menggunakan kalimat mudah . Di luar itu, buku ini menarik untuk ditelisik lebih jauh mengenai bagaimana Jepang membangun sebuah negara sampai dianggap setara dengan orang kulit putih Eropa.
Diposkan pada 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Book Review

Judul                      : Orang Jepang di Koloni Asia Tenggara Judul Asli              : The Japanese in Colonial Southeast Asia...