Resensi Buku Sejarah: Asia Tenggara Dalam Kurun
Niaga 1450-1680
(Jilid 1: Tanah di Bawah
Angin)
Oleh: Yose Rizal Triarto
Judul Buku : Asia
Tenggara Dalam Kurun Niaga 1450-1680 (Jilid 1: Tanah di Bawah Angin)
Penulis :
Anthony Reid
Alih
Bahasa : Mochtar Pabotinggi
Penerbit : Yayasan Pustaka Obor Indonesia, Jakarta
Tahun Terbit : Cetakan kedua, Januari 2011
Tebal Buku : xxxiv + 327 hlm
ISBN : 978-979-461-108-1
Kategori buku: Sejarah
Prof. Anthony Reid, Ph.D. merupakan seorang sejarawan mumpuni
nan unggul yang berasal Selandia Baru
dan
lahir di tahun 1939 serta aktif menulis. Karya-karya beliau banyak berkaitan dengan sejarah Aceh sejak berdirinya
Kesultanan Aceh, Sulawesi Selatan, dan sejarah modern Hindia-Belanda/Indonesia
pada abad ke-20.
Beliau juga dikenal sebagai pakar sejarah Asia Tenggara.
Perkenalan beliau
dengan Asia Tenggara berawal saat usianya 13 tahun, ia ikut ayahnya bertugas di
Indonesia sebagai pegawai PBB selama tiga tahun (1952-1954). Studi doktoralnya
di Universitas Cambridge diselesaikan pada tahun 1969 mengenai persaingan
antara Kesultanan Aceh, Belanda, dan Inggris di antara tahun 1858-1898.
Selepas memperoleh gelar Ph.D., beliau memulai karir
akademis dan intelektualnya dengan mengajar
di Universitas Malaya sejak 1965. Kemudian ia berpindah mengajar di Universitas
Negeri Australia (Australian National University, ANU) dengan keahlian kajian
Asia Tenggara. Pada tahun 1978, ia mengambil cuti sabbatical dan bepergian ke Belanda, Inggris, dan Perancis.
Hasilnya adalah buku dua volume yang
menjadi rujukan penting dalam kajian sejarah Asia Tenggara, Southeast Asia in
the Age of Commerce atau Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450 – 1680.
Di dalam bukunya yang berjudul Asia Tenggara dalam
Kurun Niaga 1450-1680 Jilid I: Tanah di Bawah Angin, Anthony Reid mengemukakan tulisan dan pandangannya tentang keseharian
hidup dari masyarakat Asia Tenggara pada masa tersebut. Seperti apa yang
Onghokam tulis pada kata pengantar buku tersebut, yang menjadi perhatian Reid
adalah, geografi, demografi, pakaian, pesta rakyat dan kerajaan, perumahaan, material culture, makanan, seks,
kedudukan wanita versus laki-laki dan lain sebagainya
Pada bab pertama yakni Pendahuluan: Tanah di Bawah
Angin, Reid mengulas tentang Asia Tenggara yang dilihat dari segi kesatuan
wilayah dan penduduk. Asia Tenggara diartikannya sebagai serumpun wilayah yang
mepunyai letak yang stategis. Reid juga mengidentifikasi bahwa Asia Tenggara
mempunyai penduduk yang sepersaudaraan, mirip baik dalam postur maupun sikap
tingkah dan kebiasaan. Penduduk Asia Tenggara hidup berdampingan dan saling
melengkapi dalam hal pemenuhan kebutuhan. Reid menterjemahkan masyarakat Asia
Tenggara sebagai kesatuan hidup yang hidup sebagai satu unit.
Pada bab berikutnya yakni bab dua, Kesejahteraan Fisik
merupakan suatu kajian tentang bagaimana kondisi fisik rakyat Asia Tenggara
pada periode tersebut. Disebutkan bahwa penduduk Asia Tenggara saat itu masih
jarang dan hidup tidak memencar. Masyarakat Asia tenggara saat itu sebagian
besar hidup dengan bertani, terutama sektor beras. Beras dijadikan sebagai
makanan utama dan sebagai pelengkapnya adalah garam dan ikan. Benda tersebut
sudah menjadi barang yang hamper tersebar menyeluruh. Bahkan bahan makanan yang
ada di kawasan Assia Tenggara pada masa itu sudah mampu dipasarkan ke berbagai
daerah. Hal tersebut menandakan adanya pemenuhan makanan yang sejahtera di
sebagian besar daerah. Pola makan yang sehat dan makanan yang penuh gizi
mendorong peduduk Asia Tenggara memiliki postur tubuh yang hampir sama dengan masyarakat Eropa pada masa itu, bahkan
dikatakan tingkat kesehatan masyarakat Asia Tenggara saat itu melebihi tingkat
kesehatan masyarakat Eropa. Dilihat dari obat-obatan yang digunakan, masyarakat
Asia Tenggara menggunakan obat-obat alami dan tradisional sebagai bahan
penyembuhan. Namun, masih ada hal-hal mistis yang melekat pada proses
penyembuhan saat itu. Dan ditekankan sekali lagi bahwa masyarakat saat itu
mempunyai badan yang lebih kebal terlihat dari tidak adanya wabah penyakit
serius yang melanda masyarakat saat itu.
Pada bab selanjutnya yakni bab tiga Kebudayaan
Material, Reid menjelaskan bahwa rumah-rumah masyarakat saat itu berbentuk
panggung dan terbuat dari kayu yang mudah dibongkar pasang. Perabotan yang
digunakan masih sangat sederhana tidak ada meja ataupun kursi. Raja dan
masyarakat duduk di lantai dan menggunakan tangan sebagai alat makan. Tubuh
juga tidak luput dari perhatian penanda kehebatan atau keindahan. Orang-orang
menghiasi tubuh dengan tato seperti masyarakat Birma, pelubangan telinga dan
lain-lain. Masyarakat saat itu lebih mementingkan pakaian sebagai simbol kekayaan
ketika menghadiri pesta tertentu. Pakaian menjadi komoditi yang diperdagangkan
dan menghasilkan pendapatan yang lumayan. Saat itu udah terdapat spesialisaasi
pekerjaan seperti tukang pande besi, emas, tukang kapal, penjahit dan masih
banyak lagi.
Pada bab empat Pengaturan Masyarakat, Reid mencoba menganalisa dan menggambarkan perihal
pengaturan masyarakat saat itu. Sistem kekuasaan saat itu diartikan oleh Reid
sebagai patriarkal. Reid menjelaskan tentang beberapa peperangan yang terjadi
di Asia Tenggara. Peperangan itu menurut Reid lebih dilatarbelakangi oleh
pengeksploitasian budak bukan sebagai media perluasan wilayah teritorial. Buruh
dan budak dipandang sebagai alat penunjuk kekuasaan, sehingga mobilitasnya
dianggap penting. Saat itu hukum dan keadilan dilaksanakan sebagai suatu
kebijaksanaan raja, namun adakalanya raja harus menhukum rakyat yang berbuat
salah guna melegitimasi kekuasaannya. Jika menganalisis apa yang ditulis Reid dalam bukunya,
kita dapat melihat bahwa kedudukan wanita Asia Tenggara pada kisaran waktu
1450-1680 dianggap mempunyai peran ekonomis serta otonom. Wanita dianggap
berjasa melahirkan dan membesarkan anak, sang generasi penerus.
Pada akhirnya, Pesta Keramaian dan Dunia Hiburan dijabarkan pada bab terakhir, bab lima. Reid
menutup bab-bab pad buku ini dengan anggapan bahwa manusia Asia Tenggara saat
itu sebagai manusia yang suka berpesta dan bersenang-senang. Raja sebagai tokoh
utama dianggap harus selalu menjaga harga diri di depan rakyatnya. Masyarakat
Asia Tenggara saat itu dikenal oleh bangsa Eropa sebagai orang yang senag
melakukan pertunjukan yang memamerkan kekuatan dan kemegahan. Hal tersebut
terlihat dengan banyaknya perlombaan dan pertandingan yang diadakan raja-raja di Asia Tenggara saat itu. Sebagai contoh
ada pertandingan gulat, tinju, pertandingan melawan binatang buas dan
lain-lain.
Berbeda dengan karya Reid , jika kita membandingkan
karya Drs. Sudharmono dalam bukunya Sejarah Asia Tenggara Modern dari
Penjajahan sampai ke Kemerdekaan terbitan Universitas Gadjah Mada. Apa yang Reid
tulis dalam buku ini menyampaikan hal yang terperinci serta menyuguhkan
realitas kehidupan masyarakat Asia Tenggara pada masa itu. Sedangkan Sudharmono
mencoba menerangkan kondisi Asia Tenggara pada waktu yang hampir sepadan
melalui pendekatan politik dan kewilayahaan. Sudharmono tidak segamblang Reid
memaparkan kehidupan masyarakat Asia Tenggara saat itu. Reid melalui bukunya
mampu merangkum info dan relita masyarakat Asia tenggara saat itu dengan
pendekatan yang mudah dipahami. Reid menyampaikan materi bab demi bab secara
jelas. Bahasa yang digunakan tidaklah rumit sehingga mudah mencerna maksudnya
oleh pembaca awam tentu saja. Data yang digunakan dalam penyusunan buku ini
menggunakan sumber data yang jelas sehingga mampu terbukti secara ilmiah.
Walaupun demikian, Reid memang terkesan terlalu remeh
dalam hal penjabaran materi dalam buku ini, sehingga terkesan sedarhana dan
membosankan. Walaupun mempunyai kelemahan tidak adanya penjelasan mengenai
hal-hal yang berbau politik dan kekuasaan raja-raja saat itu, Anthony Reid
sudah menghasilkan sebuah karya luar biasa yang mampu menyentuh sisi-sisi
kehidupan yang sesungguhnya dari masyarakat Asia Tenggara dalam kurun niaga
1450-1680. Sebuah karya yang sangat monumental dengan
data-data yang disajikan cukup valid dan terperinci. Buku ini sangat disarankan
dan cocok dibaca oleh
para pelajar, mahasiswa, dosen, bahkan masyarakat umum
yang sedang mendalami ilmu sejarah.
Biodata resentator: Yose Rizal Triarto, S.Si, lahir di Cirebon, Jawa Barat, pada
5 Desember 1985. Alumnus S1 Jurusan Fisika Konsentrasi/ Peminatan Geofisika F.
MIPA UNDIP Semarang 2003-2007 dengan predikat cum laude.
Oleh
karena anugerah Tuhan Yang Maha Esa, setelah lulus kemudian sempat bekerja pada
kantor pusat beberapa perusahaan nasional dan multinasional ternama di
Indonesia yakni PT. Elnusa Tbk Jakarta, PT. WesternGeco Indonesia Jakarta, dan
PT. Transmedic Indonesia Jakarta dan pernah mengikuti pelatihan dalam masa bekerja
di beberapa tempat di luar negeri di antaranya Kuala Lumpur Malaysia, Dubai Uni
Emirat Arab, dan Houston Texas Amerika Serikat, selama tahun 2008-2013.
Adalah
seorang pemerhati masalah pendidikan, ekonomi, sosial, dan politik di
Indonesia. Aktif menulis untuk kepentingan lomba, diskusi, dan kritik publik di
forum-forum nasional ternama Indonesia sejak 2014. Saat ini sedang berupaya
mengambil Master Pendidikan dan Humaniora di Kota Yogyakarta dan mengikuti
program pembelajaran non-degree Management and Social Entrepreneurship melalui
Universitas Ciputra Entrepreneurship Online (Ciputra UCEO).
Buku
kumpulan puisi, esay, dan opini solo populer pertama dan keduanya berjudul
“Bumi dan Manusia” (diterbitkan oleh Penerbit Kaifa, Bandung, Maret 2015) dan
“Agnosto Deo: Kepada Tuhan yang Tak Dikenal” (diterbitkan oleh Penerbit Kaifa,
Bandung, Maret 2016). Puluhan buku antologi puisi, esay, dan opini bersama
dengan penulis-penulis Indonesia berbakat lainnya telah diterbitkan penerbit
mayor dan indie Indonesia. Saat ini bekerja dengan semangat terbarukan sebagai
seorang wirausahawan, pengajar senior dan pemilik LBB Prestasi Utama
Yogyakarta, dan freelance scriptwriter, host & announcer di JB Radio
"Generasi Cerdas Masa Depan" Balai Tekkomdik Dinas Dikpora DIY.
Penulis dapat dihubungi melalui email yrtriarto@gmail.com, Facebook facebook.com/yose.triarto, Twitter @yrtriarto2,
LinkedIn https://id.linkedin.com/pub/yose-rizal-triarto-s-si/4b/996/4a5,
dan no HP/WA 0812-8602-8958.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar