[Book Review]
Judul :
Wacana Publik Asia Tenggara: Menuju Masyarakat Madani
Penulis : Niels Mulder
Penerbit : Kanisius (2005)
Halaman : 334
Berbicara
tentang masyarakat madani (civil society),
kita tidak bisa terlepas dari prinsip pokok pluralis, toleransi serta human right. Itulah mengapa masyarakat
madani dalam artian negara menjadi cita-cita dari setiap negara, termasuk
negara-negara berkembang di Asia Tenggara. Adalah melalui Wacana Publik Asia
Tenggara, Niels Mulder mencoba untuk menyingkapkan wacana public di kalangan
terdidik yang hidup di perkotaan dan menelusuri bagaimana mereka berpikir
tentang masyarakat dan segala permasalahannya.
Wacana
Publik Asia Tenggara sendiri merupakan judul terakhir dari seri tulisan yang
memaparkan hasil pengamatan Mulder terhadap kebudayaan ranah publik di tiga
negeri Asia Tenggara: Indonesia, Muang Thai dan Filipina. Buku kumpulan tulisan
yang didasarkan penelitian lapangan ini menelaah mental yang dimiliki
masyarakat (terutama anggota golongan menengah yang menetap di perkotaan) Asia
Tenggara sebagaimana dunia publiknya berkembang dan menilai kemungkinan
munculnya masyarakat madani yang aktif.
Mulder
membuka buku ini dengan gambaran mengenai pembentukan citra-citra tentang dunia
publik dan kehidupan bermasyarakat di Asia Tenggara. Ditilik secara historis
dan dituliskan secara sistematis, para pembaca diajak untuk kembali melacak awal
timbulnya masyarakat madani di Indonesia, Muang Thai dan Filipina yang
pencitraannya cukup rumit karena serentak memperlihatkan berbagai kecenderungan
respon terhadap perubahan masyarakat.
Di dalam lima esai pertama, tergambar jelas
pandangan ideologis negara tentang ranah publik yang mencakup tafsiran tentang
masyarakat dari tempat individu di dalamnya. Pandangan-pandangan tersebut
diambil melalui sumber-sumber pendidikan nilai yang dicecap oleh sebagian besar
masyarakat sejak kecil. Sumber inilah yang sebetulnya memiliki pengaruh cukup
besar dalam proses pembentukan gambaran sosial yang akan menjadi unsur
kebudayaan nasional. Mulder kemudia menarik permasalahan-permasalahan seoerti
gagasan di balik Moral Recovery Program Filipina,
pendidikan nilai dan demokrasi Muang Thai yang banyak mengacu pada Barat, serta
Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan di Indonesia yang dapat memberikan
sebuah konklusi pokok pada akhirnya.
Memasuki
esai keenam, penelaahan kita akan ditarik ke gagasan-gagasan pers melalui
terbitan-terbitan mereka sebagai intelektual publik. Meskipun mereka dapat
dikategorikan pula ke dalam kaum cendekiawan yang dapat memajukan perdebatan,
beberapa di antaranya masih mewakili beberapa pihak dan sekadar fokus kepada
apa yang mereka dapat lakukan. Diperlukan orang-orang yang dapat menantang
situasi-situasi dan memberikan penyadaran kepada khalayak umum bahwa status quo
mereka tidak baik-baik saja; hal ini dibutuhkan dalam proses perkembangan
menuju masyarakat yang lebih baik, sebagaimana yang diamati pada esai dalam Bab
7 dan Bab 8.
Mulder
membahas tiga orang pengarang wanita dan empat pengarang sosial-kritis melalui fiksi-fiksi
baru yang dianggap dapat menambahkan gambaran berdasarkan fiksi baru yang
mereka tulis. Terlepas dari mutu tulisan dan apakah kondisi sosial sesuai
dengan apa yang mereka lukiskan, tulisan-tulisan tersebut memberikan diagnosis
serta kecenderungan menarik dalam evolusi kebudayaan yang terjadi di Asia
Tenggara.
Setelah
keseluruhan aspek-aspek di atas digabungkan dengan suara dari agama dan tata
susila di Bab 10, refleksi tentang praktek sosial dewasa ini mulai tergambar
secara lebih jelas dalam Bab 11. Kemudian gagasan-gagasan yang telah
dikemukakan tersebut lebih dalam dinilai di Bab 12—apakah dapat mendukung
keterwujudan dari masyarakat madani yang berpengaruh? Apakah dengan kondisi
masyarakat yang ada di Filipina, Indonesia dan Muang Thai dapat mendukung
perkembangan negara dengan sebaik-baiknya dalam lingkungan yang terbuka,
demokratis serta menjamin kebebasan berpendapat, berorganisasi, juga pertukaran
gagasan yang bebas merdeka?
Sayangnya,
hanya mengambil tiga negara sebagai subjek teliti menurut saya kurang dapat
mewakilkan penggambaran proses tumbuhnya masyarakat madani di seluruh Asia
Tenggara. Seperti yang kita ketahui, tiap-tiap negara di Asia Tenggara sendiri
memiliki latar belakang sejarah serta karakter masyarakat yang beragam. Namun,
secara keseluruhan, kumpulan esai ini disajikan Mulder dengan sangat baik
karena berangkat dari fenomena masyarakat sehari-hari dengan penjelasan yang
cukup mudah dipahami oleh orang awam. Ditambah lagi dengan fakta bahwa saya
juga merupakan bagian dari masyarakat Indonesia—yang menjadi salah satu bahasan
pokok di sini, saya dapat menarik benang-benang merah dalam mengenai
permasalahan di ketiga negara dengan pandangan Mulder akan kemungkinan
masyarakat madani yang vital dan berkembang di Asia Tenggara.
Resentator : Salsabila Olivia Hatim , Universitas Gadjah Mada

Tidak ada komentar:
Posting Komentar