Minggu, 10 Desember 2017

Book Review

[Book Review]





Judul      : Wacana Publik Asia Tenggara: Menuju Masyarakat Madani
Penulis   : Niels Mulder
Penerbit : Kanisius (2005)
Halaman : 334



 Berbicara tentang masyarakat madani (civil society), kita tidak bisa terlepas dari prinsip pokok pluralis, toleransi serta human right. Itulah mengapa masyarakat madani dalam artian negara menjadi cita-cita dari setiap negara, termasuk negara-negara berkembang di Asia Tenggara. Adalah melalui Wacana Publik Asia Tenggara, Niels Mulder mencoba untuk menyingkapkan wacana public di kalangan terdidik yang hidup di perkotaan dan menelusuri bagaimana mereka berpikir tentang masyarakat dan segala permasalahannya.
Wacana Publik Asia Tenggara sendiri merupakan judul terakhir dari seri tulisan yang memaparkan hasil pengamatan Mulder terhadap kebudayaan ranah publik di tiga negeri Asia Tenggara: Indonesia, Muang Thai dan Filipina. Buku kumpulan tulisan yang didasarkan penelitian lapangan ini menelaah mental yang dimiliki masyarakat (terutama anggota golongan menengah yang menetap di perkotaan) Asia Tenggara sebagaimana dunia publiknya berkembang dan menilai kemungkinan munculnya masyarakat madani yang aktif.
Mulder membuka buku ini dengan gambaran mengenai pembentukan citra-citra tentang dunia publik dan kehidupan bermasyarakat di Asia Tenggara. Ditilik secara historis dan dituliskan secara sistematis, para pembaca diajak untuk kembali melacak awal timbulnya masyarakat madani di Indonesia, Muang Thai dan Filipina yang pencitraannya cukup rumit karena serentak memperlihatkan berbagai kecenderungan respon terhadap perubahan masyarakat.
   Di dalam lima esai pertama, tergambar jelas pandangan ideologis negara tentang ranah publik yang mencakup tafsiran tentang masyarakat dari tempat individu di dalamnya. Pandangan-pandangan tersebut diambil melalui sumber-sumber pendidikan nilai yang dicecap oleh sebagian besar masyarakat sejak kecil. Sumber inilah yang sebetulnya memiliki pengaruh cukup besar dalam proses pembentukan gambaran sosial yang akan menjadi unsur kebudayaan nasional. Mulder kemudia menarik permasalahan-permasalahan seoerti gagasan di balik Moral Recovery Program Filipina, pendidikan nilai dan demokrasi Muang Thai yang banyak mengacu pada Barat, serta Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan di Indonesia yang dapat memberikan sebuah konklusi pokok pada akhirnya.
Memasuki esai keenam, penelaahan kita akan ditarik ke gagasan-gagasan pers melalui terbitan-terbitan mereka sebagai intelektual publik. Meskipun mereka dapat dikategorikan pula ke dalam kaum cendekiawan yang dapat memajukan perdebatan, beberapa di antaranya masih mewakili beberapa pihak dan sekadar fokus kepada apa yang mereka dapat lakukan. Diperlukan orang-orang yang dapat menantang situasi-situasi dan memberikan penyadaran kepada khalayak umum bahwa status quo mereka tidak baik-baik saja; hal ini dibutuhkan dalam proses perkembangan menuju masyarakat yang lebih baik, sebagaimana yang diamati pada esai dalam Bab 7 dan Bab 8.
Mulder membahas tiga orang pengarang wanita dan empat pengarang sosial-kritis melalui fiksi-fiksi baru yang dianggap dapat menambahkan gambaran berdasarkan fiksi baru yang mereka tulis. Terlepas dari mutu tulisan dan apakah kondisi sosial sesuai dengan apa yang mereka lukiskan, tulisan-tulisan tersebut memberikan diagnosis serta kecenderungan menarik dalam evolusi kebudayaan yang terjadi di Asia Tenggara.
Setelah keseluruhan aspek-aspek di atas digabungkan dengan suara dari agama dan tata susila di Bab 10, refleksi tentang praktek sosial dewasa ini mulai tergambar secara lebih jelas dalam Bab 11. Kemudian gagasan-gagasan yang telah dikemukakan tersebut lebih dalam dinilai di Bab 12—apakah dapat mendukung keterwujudan dari masyarakat madani yang berpengaruh? Apakah dengan kondisi masyarakat yang ada di Filipina, Indonesia dan Muang Thai dapat mendukung perkembangan negara dengan sebaik-baiknya dalam lingkungan yang terbuka, demokratis serta menjamin kebebasan berpendapat, berorganisasi, juga pertukaran gagasan yang bebas merdeka?
Sayangnya, hanya mengambil tiga negara sebagai subjek teliti menurut saya kurang dapat mewakilkan penggambaran proses tumbuhnya masyarakat madani di seluruh Asia Tenggara. Seperti yang kita ketahui, tiap-tiap negara di Asia Tenggara sendiri memiliki latar belakang sejarah serta karakter masyarakat yang beragam. Namun, secara keseluruhan, kumpulan esai ini disajikan Mulder dengan sangat baik karena berangkat dari fenomena masyarakat sehari-hari dengan penjelasan yang cukup mudah dipahami oleh orang awam. Ditambah lagi dengan fakta bahwa saya juga merupakan bagian dari masyarakat Indonesia—yang menjadi salah satu bahasan pokok di sini, saya dapat menarik benang-benang merah dalam mengenai permasalahan di ketiga negara dengan pandangan Mulder akan kemungkinan masyarakat madani yang vital dan berkembang di Asia Tenggara.

 Resentator : Salsabila Olivia Hatim , Universitas Gadjah Mada

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Book Review

Judul                      : Orang Jepang di Koloni Asia Tenggara Judul Asli              : The Japanese in Colonial Southeast Asia...