Judul : Orang Jepang di Koloni
Asia Tenggara
Judul Asli : The Japanese
in Colonial Southeast Asia
Penyunting : Saya Shiraishi dan Takashi
Shiraishi
Penerjemah : P. Soemitro
Penerbit : Yayasan Obor Indonesia
Tahun : Juni, 1998
Cetakan : Pertama
Tebal : vi + 282 hlm : 21 cm
ISBN : 979-461-301-0
Jepang
: Negeri Penjajah yang Menginspirasi
Maiko, tokoh pelacur dalam novel Bumi Manusia karya
Pramoedya Ananta Toer adalah antitesa dari cemerlangnya negara Jepang pada masa
awal abad ke-20. Bagaimana tidak? Negara Jepang saat itu dianggap setara dengan
orang kulit putih Eropa. Tetapi, tidak dengan orang Jepang (di Asia Tenggara).
Akibatnya, perempuan dan beberapa komunitas Jepang yang dianggap melakukan
pekerjaan hina tersebut tak disukai Konsulat Jepang. Dan, negeri dengan julukan
Matahari Terbit ini berhasil menghapuskan pekerjaan tersebut tahap demi
tahap. Ironi di atas merupakan kesan Saya Siraishi dan Takashi Shiraishi yang
ditulis dalam catatan harian mereka sekaligus menjadi mukadimah buku Orang
Jepang di Koloni Asia Tenggara.
Migrasi orang Jepang ke Asia Tenggara dimulai pada
awal zaman Meiji. Karayuki-san, pekerja seks komersial Jepang, adalah latar
belakang Jepang selain sebagai kekuatan imperial dengan perusahaan-perusahaan
besarnya di beberapa negeri koloni tersebut. Daerah persebaran Karayuki-san
meliputi daerah Siberia, Manchuria, Cina, daerah Pasifik Selatan, India sampai
Amerika dan Afrika. Fukuzawa Fukichi. Seorang cendekiawan dan tokoh terkemuka
pada zaman Meiji menyebutkan Karayuki-san dalam sosio-ekonomi Jepang
begitu signifikan peranannya.
Bila di mukadimah dibahas mengenai sosio-ekonomi, maka
pada bab dua pembaca disodori Asia Tenggara sebagai Konsep Regional Modern
di Jepang : Sebuah Analisis Buku Ajar Geografi Regional. Wilayah Asia
Tenggara merupakan konsep Jepang setelah Perang Dunia I. Dan, istilah “Asia
Tenggara” diambil dalam tema dibentuknya Komando Asia Tenggara oleh Kekuasaan
Sekutu selama Perang Dunia II guna membebaskan wilayah ini dari pendudukan
Jepang. Konsep Regionalnya disusun di awal Jepang modern atas dasar
pertimbangan politik atau kepentingan dan merebaknya ideologi imperium Jepang.
Kemudian, juga dijelaskan buku ajar ilmu-ilmu sosial sekolah dasar yang
mencerminkan kebijakan penambahan ilmu-ilmu sosial ke dalam kurikulum
dimasukkan menjadi satu di dalam mata pelajaran sejarah dan geografi yang lama.
Tulisan ketiga adalah Pola Penetrasi Ekonomi Jepang
ke Singapura dan Malaya Sebelum Perang. Penetrasi orang Jepang di Singapura
dan Malaya pada masa antar-peperangan ditandai dengan pasang naik dan turunnya
jumlah pekerja orang Jepang di bidang perdagangan dan bank yang tidak menikah
dan yang tidak disertai keluarganya dan yang jumlahnya dapat dengan cepat
meningkat atau menurun menurut keadaan bisnis. Penetrasi Jepang di dua wilayah
itu bersifat ekonomis, dipimpin oleh perusahaan yang tertarik oleh pasaran
regional sumber alam, jauh dari stereotipe yang dengan populer dikenal “eksodus
orang yang terampas”.
Esai keempat, Pola Penetrasi Ekonomi Jepang ke
Hindia Timur Belanda Sebelum Perang menjelaskan alasan bertambahnya
populasi orang Jepang di Hindia Timur Belanda. Antara tahun 1917 dan 1927,
secara bertahap angka populasi meningkat. Hal tersebut merupakan suatu ciri
yang mencolok dari kecenderungan populasi orang Jepang di negeri koloni
tersebut.
Pada esai kelima, Pola Perembesan Ekonomi Jepang ke
Filipina sebelum Perang, dipaparkan analisis pola penetrasi ekonomi orang
Jepang di Filipina pada 1920-an yang dikendalikan oleh sumber daya dan pasaran,
seperti halnya di Singapura dan Malaya. Namun, dalam perjalanan waktu, populasi
di sektor pertanian dan perdaganan diorganisir kebali menjadi usaha-usaha besar
oleh sebab banyak pekerja perkebunan abaca, yang jumlahnya bertambah dengan
cepat selama Perang Dunia I menjadi penggarap bebas. Tetapi, mereka kehilangan
status ketika harga serat rami turun selama masa resesi awal 1920-an. Sebagian
besara orang Jepang di Filipina yang terlibat di dalam sektor pertanian dan
perdagangan bertindak selaku pedagang kecil yang bebas, meskipun didominasi
oleh perusahaan yang lebih besar.
Tulisan keenam menyuguhkan kisah Hirochiro Ishihara
dan Pasokan Bijih Besi yang Stabil. Di sini, dijelaskan biografi Ishihara
sebagai penemu bijih besi di Sri Medan, Johor, di tepi Sungai Simpang Kiri.
Meski lahir dan hidup di daerah miskin, Ishihara tak menderita kemiskinan
karena memiliki dua setengah are sawah. Ia kemudian menjelajah ke Asia Tenggara
dan dipertemukan dengan peruntungannya. Tetapi, sebelum mencapai kesuksesannya,
lelaki yang mengawali bisnis di kebun karet ini harus berjibaku demi melawan
nasib. Bahkan, ia sempat harus menjual kebun karetnya karena bangkrut pada
1919. Berkat keberuntungannya, pada 1930-an Ishihara mulai menegaskan capnya
sendiri sebagai imperialis “Ekspansi ke Selatann,” dengan menulis Shin
Nippom kensetsu (Membangun Nippon Baru; 1934), Tenkan Nippon no shinro (Arah
Jepang di persimpangan jalan; 1940), dan Minami Nippon no kensetsu (Membangun
Nippon Selatan; 1942), dan terlibat di dalam dunia politik.
Esai penutup, Komunitas Orang Jepang di Luar Negeri
: Kasus Davao Sebelum Perang di Filipina, meneroka komunitas orang Jepang
di luar negeri yang terdiri atas sejumlah pekerja migran pada awal abad ke-20.
Peranan mereka ialah mendirikan sekolah-sekolah Jepang di dalam pembentukan dan
pengembangan komunitas mereka, khususnya di Davao. Salah satunya sekolah yang
didirikan Ota Kogyo, Furukawa Takushoku, serta konsul yang bertujuan mendorong
imigran agar bermukim di situ. Sekolah-sekolah ini memainkan pernanan yang
penting di dalamn pengendalian dan pengorganisasian oleh Perhimpuran Orang
Jepang (Japanese Association) terhadap jumlah imigran yang terus betambah.
Tujuh esai panjang yang terhimpun dalam buku ini
merupakan ikhtiar mempelajari bangsa Jepang yang berprilaku beda dari kebiasaan
bangsa Timur Asing pada umumnya. Tidak seperti bangsa Cina, India, dan Arab,
mereka kembali ke negaranya setelah berakhirnya Perang Dunia II. Tak dinyana
bahwa Nasionalisme, kepribadian Jepang yang begitu kuat inilah yang
menggerakkan Tokyo terus memonitor dan mengeksploitasi komunikasi ekspatriatnya
demi martabat bangsanya yang saat itu menjadi warga kelas satu. Data-data
terkait Jepang sebagai negara berpengaruh di negeri koloni Asia Tenggara yang
ditampilkan dalam bentuk tabel juga menambah kelengkapannya. Paling utama, di
hampir setiap bab disertai kesimpulan, sehingga memudahkan pembaca mengambil
inti bacaan. Sementara, ditemui beberapa kalimat yang sulit dicerna.
Seharusnya, penerjemah mampu membawa karya terjemahan ini ke hadapan pembaca
Indonesia, yakni dengan menggunakan kalimat mudah . Di luar itu, buku ini
menarik untuk ditelisik lebih jauh mengenai bagaimana Jepang membangun sebuah
negara sampai dianggap setara dengan orang kulit putih Eropa.
Diposkan pada
Diposkan pada




