Minggu, 10 Desember 2017

Book Review


Judul                      : Orang Jepang di Koloni Asia Tenggara
Judul Asli              : The Japanese in Colonial Southeast Asia
Penyunting            : Saya Shiraishi dan Takashi Shiraishi
Penerjemah          : P. Soemitro
Penerbit                 : Yayasan Obor Indonesia
Tahun                    : Juni, 1998
Cetakan                : Pertama
Tebal                      : vi + 282 hlm : 21 cm
ISBN                      : 979-461-301-0

Jepang : Negeri Penjajah yang Menginspirasi

Maiko, tokoh pelacur dalam novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer adalah antitesa dari cemerlangnya negara Jepang pada masa awal abad ke-20. Bagaimana tidak? Negara Jepang saat itu dianggap setara dengan orang kulit putih Eropa. Tetapi, tidak dengan orang Jepang (di Asia Tenggara). Akibatnya, perempuan dan beberapa komunitas Jepang yang dianggap melakukan pekerjaan hina tersebut tak disukai Konsulat Jepang. Dan, negeri dengan julukan Matahari Terbit ini berhasil menghapuskan pekerjaan tersebut tahap demi tahap. Ironi di atas merupakan kesan Saya Siraishi dan Takashi Shiraishi yang ditulis dalam catatan harian mereka sekaligus menjadi mukadimah buku Orang Jepang di Koloni Asia Tenggara.
Migrasi orang Jepang ke Asia Tenggara dimulai pada awal zaman Meiji. Karayuki-san, pekerja seks komersial Jepang, adalah latar belakang Jepang selain sebagai kekuatan imperial dengan perusahaan-perusahaan besarnya di beberapa negeri koloni tersebut. Daerah persebaran Karayuki-san meliputi daerah Siberia, Manchuria, Cina, daerah Pasifik Selatan, India sampai Amerika dan Afrika. Fukuzawa Fukichi. Seorang cendekiawan dan tokoh terkemuka pada zaman Meiji menyebutkan Karayuki-san dalam sosio-ekonomi Jepang begitu signifikan peranannya.
Bila di mukadimah dibahas mengenai sosio-ekonomi, maka pada bab dua pembaca disodori Asia Tenggara sebagai Konsep Regional Modern di Jepang : Sebuah Analisis Buku Ajar Geografi Regional. Wilayah Asia Tenggara merupakan konsep Jepang setelah Perang Dunia I. Dan, istilah “Asia Tenggara” diambil dalam tema dibentuknya Komando Asia Tenggara oleh Kekuasaan Sekutu selama Perang Dunia II guna membebaskan wilayah ini dari pendudukan Jepang. Konsep Regionalnya disusun di awal Jepang modern atas dasar pertimbangan politik atau kepentingan dan merebaknya ideologi imperium Jepang. Kemudian, juga dijelaskan buku ajar ilmu-ilmu sosial sekolah dasar yang mencerminkan kebijakan penambahan ilmu-ilmu sosial ke dalam kurikulum dimasukkan menjadi satu di dalam mata pelajaran sejarah dan geografi yang lama.
Tulisan ketiga adalah Pola Penetrasi Ekonomi Jepang ke Singapura dan Malaya Sebelum Perang. Penetrasi orang Jepang di Singapura dan Malaya pada masa antar-peperangan ditandai dengan pasang naik dan turunnya jumlah pekerja orang Jepang di bidang perdagangan dan bank yang tidak menikah dan yang tidak disertai keluarganya dan yang jumlahnya dapat dengan cepat meningkat atau menurun menurut keadaan bisnis. Penetrasi Jepang di dua wilayah itu bersifat ekonomis, dipimpin oleh perusahaan yang tertarik oleh pasaran regional sumber alam, jauh dari stereotipe yang dengan populer dikenal “eksodus orang yang terampas”.
Esai keempat, Pola Penetrasi Ekonomi Jepang ke Hindia Timur Belanda Sebelum Perang menjelaskan alasan bertambahnya populasi orang Jepang di Hindia Timur Belanda. Antara tahun 1917 dan 1927, secara bertahap angka populasi meningkat. Hal tersebut merupakan suatu ciri yang mencolok dari kecenderungan populasi orang Jepang di negeri koloni tersebut.
Pada esai kelima, Pola Perembesan Ekonomi Jepang ke Filipina sebelum Perang, dipaparkan analisis pola penetrasi ekonomi orang Jepang di Filipina pada 1920-an yang dikendalikan oleh sumber daya dan pasaran, seperti halnya di Singapura dan Malaya. Namun, dalam perjalanan waktu, populasi di sektor pertanian dan perdaganan diorganisir kebali menjadi usaha-usaha besar oleh sebab banyak pekerja perkebunan abaca, yang jumlahnya bertambah dengan cepat selama Perang Dunia I menjadi penggarap bebas. Tetapi, mereka kehilangan status ketika harga serat rami turun selama masa resesi awal 1920-an. Sebagian besara orang Jepang di Filipina yang terlibat di dalam sektor pertanian dan perdagangan bertindak selaku pedagang kecil yang bebas, meskipun didominasi oleh perusahaan yang lebih besar.
Tulisan keenam menyuguhkan kisah Hirochiro Ishihara dan Pasokan Bijih Besi yang Stabil. Di sini, dijelaskan biografi Ishihara sebagai penemu bijih besi di Sri Medan, Johor, di tepi Sungai Simpang Kiri. Meski lahir dan hidup di daerah miskin, Ishihara tak menderita kemiskinan karena memiliki dua setengah are sawah. Ia kemudian menjelajah ke Asia Tenggara dan dipertemukan dengan peruntungannya. Tetapi, sebelum mencapai kesuksesannya, lelaki yang mengawali bisnis di kebun karet ini harus berjibaku demi melawan nasib. Bahkan, ia sempat harus menjual kebun karetnya karena bangkrut pada 1919. Berkat keberuntungannya, pada 1930-an Ishihara mulai menegaskan capnya sendiri sebagai imperialis “Ekspansi ke Selatann,” dengan menulis Shin Nippom kensetsu (Membangun Nippon Baru; 1934), Tenkan Nippon no shinro (Arah Jepang di persimpangan jalan; 1940), dan Minami Nippon no kensetsu (Membangun Nippon Selatan; 1942), dan terlibat di dalam dunia politik.
Esai penutup, Komunitas Orang Jepang di Luar Negeri : Kasus Davao Sebelum Perang di Filipina, meneroka komunitas orang Jepang di luar negeri yang terdiri atas sejumlah pekerja migran pada awal abad ke-20. Peranan mereka ialah mendirikan sekolah-sekolah Jepang di dalam pembentukan dan pengembangan komunitas mereka, khususnya di Davao. Salah satunya sekolah yang didirikan Ota Kogyo, Furukawa Takushoku, serta konsul yang bertujuan mendorong imigran agar bermukim di situ. Sekolah-sekolah ini memainkan pernanan yang penting di dalamn pengendalian dan pengorganisasian oleh Perhimpuran Orang Jepang (Japanese Association) terhadap jumlah imigran yang terus betambah.

Tujuh esai panjang yang terhimpun dalam buku ini merupakan ikhtiar mempelajari bangsa Jepang yang berprilaku beda dari kebiasaan bangsa Timur Asing pada umumnya. Tidak seperti bangsa Cina, India, dan Arab, mereka kembali ke negaranya setelah berakhirnya Perang Dunia II. Tak dinyana bahwa Nasionalisme, kepribadian Jepang yang begitu kuat inilah yang menggerakkan Tokyo terus memonitor dan mengeksploitasi komunikasi ekspatriatnya demi martabat bangsanya yang saat itu menjadi warga kelas satu. Data-data terkait Jepang sebagai negara berpengaruh di negeri koloni Asia Tenggara yang ditampilkan dalam bentuk tabel juga menambah kelengkapannya. Paling utama, di hampir setiap bab disertai kesimpulan, sehingga memudahkan pembaca mengambil inti bacaan. Sementara, ditemui beberapa kalimat yang sulit dicerna. Seharusnya, penerjemah mampu membawa karya terjemahan ini ke hadapan pembaca Indonesia, yakni dengan menggunakan kalimat mudah . Di luar itu, buku ini menarik untuk ditelisik lebih jauh mengenai bagaimana Jepang membangun sebuah negara sampai dianggap setara dengan orang kulit putih Eropa.
Diposkan pada 

Book Review

[Book Review]





Judul      : Wacana Publik Asia Tenggara: Menuju Masyarakat Madani
Penulis   : Niels Mulder
Penerbit : Kanisius (2005)
Halaman : 334



 Berbicara tentang masyarakat madani (civil society), kita tidak bisa terlepas dari prinsip pokok pluralis, toleransi serta human right. Itulah mengapa masyarakat madani dalam artian negara menjadi cita-cita dari setiap negara, termasuk negara-negara berkembang di Asia Tenggara. Adalah melalui Wacana Publik Asia Tenggara, Niels Mulder mencoba untuk menyingkapkan wacana public di kalangan terdidik yang hidup di perkotaan dan menelusuri bagaimana mereka berpikir tentang masyarakat dan segala permasalahannya.
Wacana Publik Asia Tenggara sendiri merupakan judul terakhir dari seri tulisan yang memaparkan hasil pengamatan Mulder terhadap kebudayaan ranah publik di tiga negeri Asia Tenggara: Indonesia, Muang Thai dan Filipina. Buku kumpulan tulisan yang didasarkan penelitian lapangan ini menelaah mental yang dimiliki masyarakat (terutama anggota golongan menengah yang menetap di perkotaan) Asia Tenggara sebagaimana dunia publiknya berkembang dan menilai kemungkinan munculnya masyarakat madani yang aktif.
Mulder membuka buku ini dengan gambaran mengenai pembentukan citra-citra tentang dunia publik dan kehidupan bermasyarakat di Asia Tenggara. Ditilik secara historis dan dituliskan secara sistematis, para pembaca diajak untuk kembali melacak awal timbulnya masyarakat madani di Indonesia, Muang Thai dan Filipina yang pencitraannya cukup rumit karena serentak memperlihatkan berbagai kecenderungan respon terhadap perubahan masyarakat.
   Di dalam lima esai pertama, tergambar jelas pandangan ideologis negara tentang ranah publik yang mencakup tafsiran tentang masyarakat dari tempat individu di dalamnya. Pandangan-pandangan tersebut diambil melalui sumber-sumber pendidikan nilai yang dicecap oleh sebagian besar masyarakat sejak kecil. Sumber inilah yang sebetulnya memiliki pengaruh cukup besar dalam proses pembentukan gambaran sosial yang akan menjadi unsur kebudayaan nasional. Mulder kemudia menarik permasalahan-permasalahan seoerti gagasan di balik Moral Recovery Program Filipina, pendidikan nilai dan demokrasi Muang Thai yang banyak mengacu pada Barat, serta Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan di Indonesia yang dapat memberikan sebuah konklusi pokok pada akhirnya.
Memasuki esai keenam, penelaahan kita akan ditarik ke gagasan-gagasan pers melalui terbitan-terbitan mereka sebagai intelektual publik. Meskipun mereka dapat dikategorikan pula ke dalam kaum cendekiawan yang dapat memajukan perdebatan, beberapa di antaranya masih mewakili beberapa pihak dan sekadar fokus kepada apa yang mereka dapat lakukan. Diperlukan orang-orang yang dapat menantang situasi-situasi dan memberikan penyadaran kepada khalayak umum bahwa status quo mereka tidak baik-baik saja; hal ini dibutuhkan dalam proses perkembangan menuju masyarakat yang lebih baik, sebagaimana yang diamati pada esai dalam Bab 7 dan Bab 8.
Mulder membahas tiga orang pengarang wanita dan empat pengarang sosial-kritis melalui fiksi-fiksi baru yang dianggap dapat menambahkan gambaran berdasarkan fiksi baru yang mereka tulis. Terlepas dari mutu tulisan dan apakah kondisi sosial sesuai dengan apa yang mereka lukiskan, tulisan-tulisan tersebut memberikan diagnosis serta kecenderungan menarik dalam evolusi kebudayaan yang terjadi di Asia Tenggara.
Setelah keseluruhan aspek-aspek di atas digabungkan dengan suara dari agama dan tata susila di Bab 10, refleksi tentang praktek sosial dewasa ini mulai tergambar secara lebih jelas dalam Bab 11. Kemudian gagasan-gagasan yang telah dikemukakan tersebut lebih dalam dinilai di Bab 12—apakah dapat mendukung keterwujudan dari masyarakat madani yang berpengaruh? Apakah dengan kondisi masyarakat yang ada di Filipina, Indonesia dan Muang Thai dapat mendukung perkembangan negara dengan sebaik-baiknya dalam lingkungan yang terbuka, demokratis serta menjamin kebebasan berpendapat, berorganisasi, juga pertukaran gagasan yang bebas merdeka?
Sayangnya, hanya mengambil tiga negara sebagai subjek teliti menurut saya kurang dapat mewakilkan penggambaran proses tumbuhnya masyarakat madani di seluruh Asia Tenggara. Seperti yang kita ketahui, tiap-tiap negara di Asia Tenggara sendiri memiliki latar belakang sejarah serta karakter masyarakat yang beragam. Namun, secara keseluruhan, kumpulan esai ini disajikan Mulder dengan sangat baik karena berangkat dari fenomena masyarakat sehari-hari dengan penjelasan yang cukup mudah dipahami oleh orang awam. Ditambah lagi dengan fakta bahwa saya juga merupakan bagian dari masyarakat Indonesia—yang menjadi salah satu bahasan pokok di sini, saya dapat menarik benang-benang merah dalam mengenai permasalahan di ketiga negara dengan pandangan Mulder akan kemungkinan masyarakat madani yang vital dan berkembang di Asia Tenggara.

 Resentator : Salsabila Olivia Hatim , Universitas Gadjah Mada

Book Review

Resensi Buku Sejarah: Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga 1450-1680
(Jilid 1: Tanah di Bawah Angin)
Oleh: Yose Rizal Triarto
 




Judul Buku      : Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga 1450-1680 (Jilid 1: Tanah di Bawah Angin)
Penulis             : Anthony Reid
Alih Bahasa   : Mochtar Pabotinggi
Penerbit           : Yayasan Pustaka Obor Indonesia, Jakarta
Tahun Terbit    : Cetakan kedua, Januari 2011
Tebal Buku      : xxxiv + 327 hlm
ISBN               : 978-979-461-108-1

Kategori buku: Sejarah

Prof. Anthony Reid, Ph.D. merupakan seorang sejarawan mumpuni nan unggul yang berasal Selandia Baru dan lahir di tahun 1939 serta aktif menulis. Karya-karya beliau banyak berkaitan dengan sejarah Aceh sejak berdirinya Kesultanan Aceh, Sulawesi Selatan, dan sejarah modern Hindia-Belanda/Indonesia pada abad ke-20.
Beliau juga dikenal sebagai pakar sejarah Asia Tenggara. Perkenalan beliau dengan Asia Tenggara berawal saat usianya 13 tahun, ia ikut ayahnya bertugas di Indonesia sebagai pegawai PBB selama tiga tahun (1952-1954). Studi doktoralnya di Universitas Cambridge diselesaikan pada tahun 1969 mengenai persaingan antara Kesultanan Aceh, Belanda, dan Inggris di antara tahun 1858-1898.
Selepas memperoleh gelar Ph.D., beliau memulai karir akademis dan intelektualnya dengan mengajar di Universitas Malaya sejak 1965. Kemudian ia berpindah mengajar di Universitas Negeri Australia (Australian National University, ANU) dengan keahlian kajian Asia Tenggara. Pada tahun 1978, ia mengambil cuti sabbatical dan bepergian ke Belanda, Inggris, dan Perancis. Hasilnya adalah buku dua volume yang menjadi rujukan penting dalam kajian sejarah Asia Tenggara, Southeast Asia in the Age of Commerce atau Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450 1680.
Di dalam bukunya yang berjudul Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680 Jilid I: Tanah di Bawah Angin, Anthony Reid mengemukakan tulisan dan pandangannya tentang keseharian hidup dari masyarakat Asia Tenggara pada masa tersebut. Seperti apa yang Onghokam tulis pada kata pengantar buku tersebut, yang menjadi perhatian Reid adalah, geografi, demografi, pakaian, pesta rakyat dan kerajaan, perumahaan, material culture, makanan, seks, kedudukan wanita versus laki-laki dan lain sebagainya
Pada bab pertama yakni Pendahuluan: Tanah di Bawah Angin, Reid mengulas tentang Asia Tenggara yang dilihat dari segi kesatuan wilayah dan penduduk. Asia Tenggara diartikannya sebagai serumpun wilayah yang mepunyai letak yang stategis. Reid juga mengidentifikasi bahwa Asia Tenggara mempunyai penduduk yang sepersaudaraan, mirip baik dalam postur maupun sikap tingkah dan kebiasaan. Penduduk Asia Tenggara hidup berdampingan dan saling melengkapi dalam hal pemenuhan kebutuhan. Reid menterjemahkan masyarakat Asia Tenggara sebagai kesatuan hidup yang hidup sebagai satu unit.
Pada bab berikutnya yakni bab dua, Kesejahteraan Fisik merupakan suatu kajian tentang bagaimana kondisi fisik rakyat Asia Tenggara pada periode tersebut. Disebutkan bahwa penduduk Asia Tenggara saat itu masih jarang dan hidup tidak memencar. Masyarakat Asia tenggara saat itu sebagian besar hidup dengan bertani, terutama sektor beras. Beras dijadikan sebagai makanan utama dan sebagai pelengkapnya adalah garam dan ikan. Benda tersebut sudah menjadi barang yang hamper tersebar menyeluruh. Bahkan bahan makanan yang ada di kawasan Assia Tenggara pada masa itu sudah mampu dipasarkan ke berbagai daerah. Hal tersebut menandakan adanya pemenuhan makanan yang sejahtera di sebagian besar daerah. Pola makan yang sehat dan makanan yang penuh gizi mendorong peduduk Asia Tenggara memiliki postur tubuh yang hampir sama dengan masyarakat Eropa pada masa itu, bahkan dikatakan tingkat kesehatan masyarakat Asia Tenggara saat itu melebihi tingkat kesehatan masyarakat Eropa. Dilihat dari obat-obatan yang digunakan, masyarakat Asia Tenggara menggunakan obat-obat alami dan tradisional sebagai bahan penyembuhan. Namun, masih ada hal-hal mistis yang melekat pada proses penyembuhan saat itu. Dan ditekankan sekali lagi bahwa masyarakat saat itu mempunyai badan yang lebih kebal terlihat dari tidak adanya wabah penyakit serius yang melanda masyarakat saat itu.
Pada bab selanjutnya yakni bab tiga Kebudayaan Material, Reid menjelaskan bahwa rumah-rumah masyarakat saat itu berbentuk panggung dan terbuat dari kayu yang mudah dibongkar pasang. Perabotan yang digunakan masih sangat sederhana tidak ada meja ataupun kursi. Raja dan masyarakat duduk di lantai dan menggunakan tangan sebagai alat makan. Tubuh juga tidak luput dari perhatian penanda kehebatan atau keindahan. Orang-orang menghiasi tubuh dengan tato seperti masyarakat Birma, pelubangan telinga dan lain-lain. Masyarakat saat itu lebih mementingkan pakaian sebagai simbol kekayaan ketika menghadiri pesta tertentu. Pakaian menjadi komoditi yang diperdagangkan dan menghasilkan pendapatan yang lumayan. Saat itu udah terdapat spesialisaasi pekerjaan seperti tukang pande besi, emas, tukang kapal, penjahit dan masih banyak lagi.
Pada bab empat Pengaturan Masyarakat, Reid mencoba menganalisa dan menggambarkan perihal pengaturan masyarakat saat itu. Sistem kekuasaan saat itu diartikan oleh Reid sebagai patriarkal. Reid menjelaskan tentang beberapa peperangan yang terjadi di Asia Tenggara. Peperangan itu menurut Reid lebih dilatarbelakangi oleh pengeksploitasian budak bukan sebagai media perluasan wilayah teritorial. Buruh dan budak dipandang sebagai alat penunjuk kekuasaan, sehingga mobilitasnya dianggap penting. Saat itu hukum dan keadilan dilaksanakan sebagai suatu kebijaksanaan raja, namun adakalanya raja harus menhukum rakyat yang berbuat salah guna melegitimasi kekuasaannya. Jika menganalisis apa yang ditulis Reid dalam bukunya, kita dapat melihat bahwa kedudukan wanita Asia Tenggara pada kisaran waktu 1450-1680 dianggap mempunyai peran ekonomis serta otonom. Wanita dianggap berjasa melahirkan dan membesarkan anak, sang generasi penerus.
Pada akhirnya, Pesta Keramaian dan Dunia Hiburan dijabarkan pada bab terakhir, bab lima. Reid menutup bab-bab pad buku ini dengan anggapan bahwa manusia Asia Tenggara saat itu sebagai manusia yang suka berpesta dan bersenang-senang. Raja sebagai tokoh utama dianggap harus selalu menjaga harga diri di depan rakyatnya. Masyarakat Asia Tenggara saat itu dikenal oleh bangsa Eropa sebagai orang yang senag melakukan pertunjukan yang memamerkan kekuatan dan kemegahan. Hal tersebut terlihat dengan banyaknya perlombaan dan pertandingan yang diadakan raja-raja di Asia Tenggara saat itu. Sebagai contoh ada pertandingan gulat, tinju, pertandingan melawan binatang buas dan lain-lain.
Berbeda dengan karya Reid , jika kita membandingkan karya Drs. Sudharmono dalam bukunya Sejarah Asia Tenggara Modern dari Penjajahan sampai ke Kemerdekaan terbitan Universitas Gadjah Mada. Apa yang Reid tulis dalam buku ini menyampaikan hal yang terperinci serta menyuguhkan realitas kehidupan masyarakat Asia Tenggara pada masa itu. Sedangkan Sudharmono mencoba menerangkan kondisi Asia Tenggara pada waktu yang hampir sepadan melalui pendekatan politik dan kewilayahaan. Sudharmono tidak segamblang Reid memaparkan kehidupan masyarakat Asia Tenggara saat itu. Reid melalui bukunya mampu merangkum info dan relita masyarakat Asia tenggara saat itu dengan pendekatan yang mudah dipahami. Reid menyampaikan materi bab demi bab secara jelas. Bahasa yang digunakan tidaklah rumit sehingga mudah mencerna maksudnya oleh pembaca awam tentu saja. Data yang digunakan dalam penyusunan buku ini menggunakan sumber data yang jelas sehingga mampu terbukti secara ilmiah.
Walaupun demikian, Reid memang terkesan terlalu remeh dalam hal penjabaran materi dalam buku ini, sehingga terkesan sedarhana dan membosankan. Walaupun mempunyai kelemahan tidak adanya penjelasan mengenai hal-hal yang berbau politik dan kekuasaan raja-raja saat itu, Anthony Reid sudah menghasilkan sebuah karya luar biasa yang mampu menyentuh sisi-sisi kehidupan yang sesungguhnya dari masyarakat Asia Tenggara dalam kurun niaga 1450-1680. Sebuah karya yang sangat monumental dengan data-data yang disajikan cukup valid dan terperinci. Buku ini sangat disarankan dan cocok dibaca oleh para pelajar, mahasiswa, dosen, bahkan masyarakat umum yang sedang mendalami ilmu sejarah.



Biodata resentator: Yose Rizal Triarto, S.Si, lahir di Cirebon, Jawa Barat, pada 5 Desember 1985. Alumnus S1 Jurusan Fisika Konsentrasi/ Peminatan Geofisika F. MIPA UNDIP Semarang 2003-2007 dengan predikat cum laude.
Oleh karena anugerah Tuhan Yang Maha Esa, setelah lulus kemudian sempat bekerja pada kantor pusat beberapa perusahaan nasional dan multinasional ternama di Indonesia yakni PT. Elnusa Tbk Jakarta, PT. WesternGeco Indonesia Jakarta, dan PT. Transmedic Indonesia Jakarta dan pernah mengikuti pelatihan dalam masa bekerja di beberapa tempat di luar negeri di antaranya Kuala Lumpur Malaysia, Dubai Uni Emirat Arab, dan Houston Texas Amerika Serikat, selama tahun 2008-2013.
Adalah seorang pemerhati masalah pendidikan, ekonomi, sosial, dan politik di Indonesia. Aktif menulis untuk kepentingan lomba, diskusi, dan kritik publik di forum-forum nasional ternama Indonesia sejak 2014. Saat ini sedang berupaya mengambil Master Pendidikan dan Humaniora di Kota Yogyakarta dan mengikuti program pembelajaran non-degree Management and Social Entrepreneurship melalui Universitas Ciputra Entrepreneurship Online (Ciputra UCEO).
Buku kumpulan puisi, esay, dan opini solo populer pertama dan keduanya berjudul “Bumi dan Manusia” (diterbitkan oleh Penerbit Kaifa, Bandung, Maret 2015) dan “Agnosto Deo: Kepada Tuhan yang Tak Dikenal” (diterbitkan oleh Penerbit Kaifa, Bandung, Maret 2016). Puluhan buku antologi puisi, esay, dan opini bersama dengan penulis-penulis Indonesia berbakat lainnya telah diterbitkan penerbit mayor dan indie Indonesia. Saat ini bekerja dengan semangat terbarukan sebagai seorang wirausahawan, pengajar senior dan pemilik LBB Prestasi Utama Yogyakarta, dan freelance scriptwriter, host & announcer di JB Radio "Generasi Cerdas Masa Depan" Balai Tekkomdik Dinas Dikpora DIY.
Penulis dapat dihubungi melalui email yrtriarto@gmail.com, Facebook facebook.com/yose.triarto, Twitter @yrtriarto2, LinkedIn https://id.linkedin.com/pub/yose-rizal-triarto-s-si/4b/996/4a5, dan no HP/WA 0812-8602-8958.

Book Review

Judul                      : Orang Jepang di Koloni Asia Tenggara Judul Asli              : The Japanese in Colonial Southeast Asia...